Sabtu, 11 September 2010

Hari Sejuta Maaf

Maaf.
Meski hari ini ia diobral dengan murah,
namun ia tetap prestisius, indah nan megah.
Seyogyanya ia datang dari muara ketulusan, sesal yang mendewasakan dan khilaf yang tak kan terulang.
Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kawan.
Dan segala keterbatasan ini kerap membentuk luka yang berbalut dendam.
Untuk itu saya mohonkan maaf pada kebesaran hatimu.
Semoga amal ibadah kita diterima oleh-Nya.
Amin.



Saya, R. Syafaati Humaerah Suryo beserta keluarga besar mengucapkan:
*Selamat merasakan serunya mudik
*Selamat mengenakan baju baru
*Selamat menikmati aneka hidangan hari raya
*Selamat berkumpul bersama keluarga, dan
*Selamat kembali ke fitrah..

Taqoballalahu minnal waminkum,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H.
Minal aidhin wal faidzin, Mohon dimaafkan lahir dan batin :))

Regard,
-Syafa-

Jumat, 10 September 2010

Seloyang 'Kue Maaf' Untuk Dibagikan, Tapi Mohon Jangan Kau Buang Bila Kau Enggan

Alhamdulillah..
Pertama-tama saya ucapkan syukur yang tiada terkira kepada Tuhan saya, Allah SWT, atas segala nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada diri saya yang berlumuran dosa ini. Semoga Allah SWT bersedia mengampuni segala nista, salah dan lupa yang pernah kita perbuat.

Di hari yang fitri nan indah ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf, penyesalan, rasa haru, ungkapan terima kasih dan kegembiraan saya kepada 'manusia-manusia mulia' yang selama ini dekat dengan saya. Kalian yang selalu ada di samping saya ketika saya sedang dalam keadaan susah dan senang, sedih maupun bahagia.

PERTAMA,
Untuk IBU saya. Ia yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan saya. Mendidik saya. Mengarahkan saya menuju kebaikan dan kebenaran. Ia yang pernah menjadi seorang single parent nan tangguh selama beberapa tahun selepas Bapak saya meninggal dunia.

Ia yang cerewet, agak lebay, riweuh dan terkadang over protected. Namun tetap pengertian. Ia yang selalu mengabulkan segala permintaan saya jika ia memang mampu untuk merealisasikannya. Ia yang sabar apabila saya membentaknya, menjutekinya dan bahkan marah-marah padanya. Tetap memanjakan saya meskipun saya sudah sedikit bersikap kasar padanya. Ia yang kerap melarang saya untuk membantunya di dapur dan malah memerintahkan saya untuk belajar serta beristirahat saja di dalam kamar. Ia yang selalu memuji-muji saya, membangga-banggakan saya di hadapan sanak saudara dan teman-temannya. Padahal saya merasa, saya sama sekali belum pantas untuk dibanggakan. Ia yang menaruh harapan besar pada saya. Ia yang sangat saya cintai dengan segenap jiwa dan raga saya.

Maafkan saya Ibu, atas segala kesalahan-kesalahan saya selama ini. Atas ucapan dan tingkah laku saya yang pernah menyakiti hatimu. Maaf karena sering membohongimu. Maaf karena jarang membantumu memasak dan membersihkan rumah. Maaf karena saya lebih sering menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman daripada bersama keluarga. Maaf karena diam-diam saya sering ber-KKN ria dalam mengajukan dana untuk memenuhi keperluan saya. Maaf karena pernah melanggar apa yang telah kau terapkan dalam peraturan yang kau buat. Maaf karena belum bisa menjadi apa yang benar-benar kau inginkan.

KEDUA,
Untuk BAPAK saya yang telah lebih dulu sampai di Surga. Tiga belas tahun lamanya ia menemani saya di dunia yang fana ini. Masih terekam dengan jelas, momen-momen berkesan apa saja yang pernah kami lalui bersama. Masih teringat dengan lekat, ilmu dan nasihat-nasihat yang pernah ia hidangkan untuk saya. Meskipun hingga saat ini, nasihat dan segala perintahnya tersebut belum mampu saya penuhi serta saya laksanakan seratus persen.

Maafkan saya, Bapak, Mungkin saya lebih sering mengirimkan dosa-dosa saya yang saya kerjakan di sini ketimbang mengirimkan doa untukmu. Maaf karena sepeninggal dirimu, saya kerapkali mengecewakanmu di sana. Saya berjanji, saya akan lebih baik lagi.

KETIGA,
Untuk ADIK-ADIK dan SEPUPU-SEPUPU saya yang bandel-bandel, rese dan menyebalkan. Namun adakalanya mereka berubah menjadi amat menyenangkan. Maaf karena selama ini saya lebih sering mengeluarkan amarah yang meledak-ledak daripada memberikan contoh yang baik untuk kalian tiru. Maaf atas tutur kata yang selalu ketus dan cenderung kasar. Maaf karena saya terbilang keras dan sedikit frontal dalam memberikan masukan serta nasihat. Maaf atas keegoisan, ketakaburan dan keapatisan saya. Maaf atas sikap saya yang membuat kalian kesal. Maaf karena belum bisa menjadi seorang Kakak yang baik. Maaf karena belum dapat menepati janji untuk sanggup menafkahi kalian. Mungkin nanti, doakan saja. Ketahuilah, sesungguhnya saya sangat menyayangi kalian.

KEEMPAT,
Untuk AYAH TIRI saya yang biasa saya panggil dengan sebutan PAPA. Sesungguhnya ia sangat baik sekali. Penyayang, penyabar dan pengertian. Meskipun ia bukan Ayah kandung saya, tetapi kami (saya dan ketiga adik saya) sangat menghormati dan menyayanginya.

Terima kasih sudah menjaga dan melindungi kami. Terima kasih telah mengusir penyakit kesepian yang pernah Ibu saya derita. Terima kasih sudah merawat saya ketika saya sedang sakit. Terima kasih sudah mau membetulkan barang-barang saya yang rusak. Terima kasih sudah menjadi tempat bertanya sekaligus teman sharing yang asyik dalam beberapa hal. Terima kasih karena sering membela saya ketika saya tengah cek-cok dengan Ibu saya. Terima kasih sudah bersedia menjadi 'supir' yang setia mengantarkan saya kemana-mana. Maaf atas segala khilaf yang pernah saya perbuat.

KELIMA,
Untuk SAHABAT-SAHABAT saya dari semenjak saya bersekolah di TK Amaliah, SD Amaliah, TPA Amaliah, SMP Negeri 3 Bogor, SMA PGRI 1 Bogor, hingga kini saya melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor. Meski pada awalnya kampus ini bukanlah kampus yang saya harapkan, tetapi ternyata, di sini saya telah menemukan banyak sekali harta karun. Teman-teman, dosen-dosen, rekan organisasi dan, ehem.. pacar saya, yang semuanya begitu baik kepada saya. Mungkin ini memang jalan yang Tuhan pilihkan untuk saya dalam menggapai seluruh cita-cita saya. Langkah awal saya.

Untuk teman-teman saya di SD, SMP dan SMA, maaf apabila saat ini saya sudah jarang berkumpul, bermain dan berbagi cerita lagi bersama kalian. Bukan berarti saya melupakan kalian. Percayalah, saya masih dan akan terus menyayangi kalian.

Pun untuk teman-teman yang lain. Para tetangga, teman sewaktu mengaji dulu, kawan-kawan di tempat kursus, teman nongkrong, temannya teman saya, temannya pacar saya, temannya adik dan saudara saya, temannya mantan saya, mantan-mantan saya itu sendiri, teman di dunia maya, teman kenal selewat, teman berbisnis, partner dalam bekerja dan berorganisasi, partner in crime, dsb, saya memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala keterbatasan dan kekhilafan saya. Terima kasih karena telah care, perhatian, bersikap manis dan menyayangi saya secara tulus. Thanks for your help and your kindness. Dan terima kasih telah memberikan segudang inspirasi serta pelajaran hidup yang berarti.

KEENAM,
Untuk GURU-GURU, DOSEN, BAPAK USTADZ dan IBU USTADZAH yang telah mengenyahkan dahaga saya akan ilmu. Terima kasih atas petuah-petuah yang menyejukkan, ilmu yang bermanfaat, pengalaman yang dibagikan, kritik dan saran yang membangun serta contoh yang tepat untuk saya ikuti. Bahkan saya tidak akan mungkin sanggup menulis tulisan ini jika saya tidak pernah mengenal kalian. Maka, mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya untuk diri saya.

KETUJUH,
Untuk PACAR saya saat ini: Taruli Tua Tampubolon. Pria yang awalnya saya nilai aneh, misterius namun sangat unik dan menyenangkan. Ia sungguh 'berbeda' dari pria-pria lain yang saya kenal — setidaknya menurut saya. Ia telah berhasil meluluhkan hati saya. Setelah sebelumnya saya pernah merasakan sakit hati bukan kepalang terhadap beberapa pria. Kemudian ia pun datang dan mengobatinya. Pria yang tidak disangka-sangka. Yang sebetulnya selama ini 'dekat' sekali dengan saya. Tapi saya tidak menyadarinya. Cinta memang sulit diterka, kawan. Sering datang tiba-tiba, unpredictable, sukar dipercaya, lucu dan mampu membuat orang yang cerdas menjadi bodoh, yang waras pun bisa saja berubah setengah gila.

Wahai 'Sahabat Jadi Cinta'-ku, terima kasih atas perhatian yang selama ini selalu kau curahkan. Terima kasih atas nasihat, saran, kritik, wawasan baru, kisah-kisah dan inspirasi yang pernah kau sajikan. Terima kasih karena sudah sangat mengerti akan diri saya. Terima kasih sudah bersedia menerima saya apa adanya. Terima kasih sudah melengkapi kekurangan dan kekosongan pada diri saya. Terima kasih sudah menjadi tempat untuk saya bertanya, berbagi cerita, berkeluh kesah, menangis, memohon pendapat, berdiskusi dan bermimpi. Terima kasih sudah menjadi sahabat sekaligus kekasih saya. Terima kasih sudah mau menemani saya kemana pun saya pergi dan beraktivitas. Terima kasih atas toleransi beragama yang kau lakukan pada saya dan kawan-kawan kita yang lain. Terima kasih atas KETULUSAN yang pernah kau ajarkan. Terima kasih atas CINTA dan KASIH SAYANG yang telah kau persembahkan kepada saya.

Maafkan saya, karena belum mampu membuatmu bahagia. Maafkan saya karena kerap menjengkelkan. Maafkan atas keegoisan dan amarah yang pernah saya tumpahkan. Maafkan saya karena tidak secantik dan tidak secerdas wanita-wanita di luar sana. Maaf atas sifat saya yang mudah sekali cemburu. Maafkan bila ada hal-hal yang bertentangan dengan pemikiranmu. Maafkan atas segala ucapan, perbuatan, tulisan maupun tingkah laku yang kurang berkenan di hatimu. Pokoknya Kita mulai dari NOL lagi yaa!

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1431 H.

Regard,
R. Syafaati Humaerah Suryo
Tajur – Kota Bogor, 10 September 2010
Ditulis Pkl. 02.00 WIB

Minggu, 05 September 2010

Kontemplasi di Dini Hari yang Sepi

Tiba-tiba saya merasa sedikit bosan dengan hari-hari saya. Dengan aktivitas dan mobilitas saya yang begini-begini saja. Bukan, bukan berarti hidup saya tidak bahagia. So far, my life’s so happy and always full of delightful things. Saya juga masih merasa 'kurang' dengan apa yang pernah saya dapatkan selama ini. Because every peoples are never feel satisfied. Termasuk juga saya.

Terkadang, saya juga menginginkan sesuatu yang 'lebih' pada kualitas diri saya. Saya akui saya masih belum ada apa-apanya. Saya masih terlampau bodoh untuk mengatakan bahwa diri saya 'mampu', 'bisa', 'dapat', 'sanggup' dan sejenisnya. Namun jujur, saya memiliki sifat iri hati yang teramat besar terhadap orang lain. Lebih tepatnya, iri hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas, edukasi, prestasi, kemampuan ataupun bakat yang dimiliki oleh seseorang. Bukan iri pada sesuatu yang bersifat semu semata yang lebih mencirikan hedonisme, materialistis bahkan konsumerisme.

Diantaranya:

Saya seringkali iri apabila ada beberapa teman saya yang Indeks Prestasi Kumulatif-nya lebih tinggi daripada saya.

Saya juga iri apabila berkenalan dengan orang-orang sebaya saya yang dapat dengan fasih menggunakan bahasa asing secara baik dan benar. Sedangkan Bahasa Inggris saya saja masih sangat pas-pasan.

Saya iri membaca tulisan-tulisan hasil buah pikir orang lain yang di setiap kata per katanya mengandung sejuta makna, berbobot dan indah dibaca. Sedangkan tulisan-tulisan saya masih jauh dari kata 'bermutu'. Perbendaharaan kata masih beku dan ide terkadang buntu.

Saya iri menyaksikan orang yang pandai berbicara di depan umum tanpa rasa nervous dan kaku sedikitpun. Sedangkan setiap kali saya mencoba mempraktekkan ilmu public speaking saya yang sempat saya dapatkan dari buku, artikel media massa maupun seminar, rasanya tidak pernah maksimal. Substansi tema kerapkali terlupakan karena termakan oleh over basa-basi, larinya konsentrasi dan rasa grogi.

Saya iri melihat orang-orang cerdas yang kerap berseliweran di depan mata saya. Dimana kecerdasannya bersatu padu dengan kharisma dan kerendahan hati yang terpancar di setiap tutur kata serta tingkah lakunya.

Saya iri pada teman yang telah banyak membaca lebih dari ratusan judul buku. Sehingga isi kepalanya pun seakan penuh dengan wawasan, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Sedangkan masih banyak sekali buku-buku best seller yang belum pernah saya konsumsi dan saya pahami sama sekali.

Saya iri kepada teman-teman di kampus lain yang organisasi kemahasiswaannya dapat maju secara pesat. Kualitas setiap pengurusnya patut diacungi jempol. Solidaritas dan kekompakkannya pun terpelihara dengan baik. Setiap proker terlaksana sesuai harapan. Event-event yang digelar selalu sukses dan mampu mendatangkan manfaat bagi khalayak luas.

Saya iri melihat orang-orang 'berhasil' yang sudah mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri tanpa perlu menadahkan telapak tangan lagi ke hadapan orang tua.

Saya iri pada kawan-kawan saya yang sudah pernah mengunjungi tempat-tempat unik nan menakjubkan impian saya. Sedangkan saya sendiri masih dalam taraf memimpikannya dan belum mempunyai kesempatan untuk menginjak tanahnya, apalagi menikmati pesonanya.

Saya iri kepada anak-anak yang orang tuanya mampu membayar isi ulang modem internet per bulannya untuk digunakan sesuka hati oleh anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut dapat dengan mudah mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. Disamping itu orang tuanya pun sanggup membiayai anak-anaknya untuk mengikuti kursus di sana-sini. Sehingga skill yang dimiliki si anak kian berkembang bahkan bertambah.

Saya juga iri melihat orang-orang di luar sana yang sudah lebih dulu melanglang buana, yang lebih one step ahead di segala bidang dan lebih beruntung karena mampu mengenyam pendidikan di tempat-tempat yang sangat prestisius serta bergengsi.

Mereka bisa, mengapa saya tak bisa? Tapi saya BELUM bisa…

Sekarang, saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan? Saya memiliki banyak mimpi. Tetapi ke-irihati-an saya tersebut kerap menjadikan saya rendah diri (minder) dan membuat saya bertanya-tanya: "Apakah saya akan mampu — atau bahkan akan lebih hebat — dari mereka?" Tapi di sisi lain, hal-hal seperti itu justru seolah-olah telah 'memecut' saya. Laksana seekor kuda yang sudah kelelahan kemudian bokongnya dipecut dengan keras oleh Pak Kusir yang sedang berkuda, agar si kuda tersebut dapat kembali berlari dengan kencang.

Hmm.. Singkatnya, sekarang saya sedang menginginkan suatu PERUBAHAN. Yang jelas, saya tidak ingin stuck di sini terus! Hanya berkutat pada 'itu-itu' saja. Saya menginginkan suasana baru. Aktivitas baru. Orang-orang baru. Saya ingin memasuki sebuah dunia baru. Mungkin dengan memasuki suatu komunitas baru atau kegiatan baru yang bisa saya seriuskan. Dimana di dalamnya saya dapat mengembangkan potensi yang saya miliki, bersibuk-sibuk ria, mengisi waktu di dalam hidup saya yang singkat ini dengan hal-hal yang positif, menambah jaringan, berkenalan dan menjalin persahabatan dengan teman-teman baru (yang jauh lebih kreatif) serta mengais pengalaman baru. Apa yaa??


Regards,
Syafa :)

Sabtu, 04 September 2010

UNSPOKEN

Sulit. Sulit untuk menjelaskannya. Ada. Sesuatu itu memang ada. Mengganjal. Di sini. Di dalam benak. Sudah menggunung, malah.

Biarlah. Sebaiknya hanya saya yang tahu dan merasakan hal ini. Yang bersangkutan, cukup diam saja. Tak perlu banyak tanya. Karena saya tidak akan dan memang tidak mampu untuk mengutarakannya secara langsung. Saya tunggu sampai Anda ‘ngeh’ dan tersadar sendiri dengan apa yang semestinya Anda lakukan.

Well, pada dasarnya saya tidak pernah menuntut macam-macam. Saya juga tidak menginginkan ini dan itu. Seperti yang Anda tahu, saya bukan tipikal wanita ‘lebay’ yang menuntut pasangannya untuk harus menuruti apa kata saya, yang suka mengekspos kemesraan di depan umum, yang segalanya harus serba praktis dan romantis, yang menjadikan kekasihnya sendiri sebagai supir pribadi/tukang ojeg langganan untuk mengantar-jemput kemana saja saya pergi, yang mewajibkan pasangannya untuk selalu mentraktir saya setiap kali makan dan minum kopi bersama, yang lenje berlebihan atau yang cenderung posessif. Maaf, saya tidak seperti itu.

Namun terkadang, di saat-saat tertentu, saya pun menginginkan sesuatu yang ‘tak biasa’. Perlakuan istimewa yang mampu menyentuh hati saya. Apa saja. Sejauh kreativitas Anda mampu melakukannya. Tak mesti sesuatu yang mahal. Tak usah pula hal-hal yang mewah, meribetkan, melelahkan atau bahkan berlebihan. Sesuatu yang mungkin menurut semua orang ‘biasa’ tetapi akan ‘luar biasa’ menyenangkan bagi saya.

Bukankah 'inovasi' juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan demi mencegah kebosanan dan mengobati kejenuhan?

Regard,
Syafa >.<

Rabu, 01 September 2010

Berbagi Kebahagiaan Menuju Kemenangan

Sore itu, hari jumat tanggal 27 Agustus 2010, atau bertepatan dengan hari ke-17 di bulan Ramadhan 1431 H. Kampus kami diguyur hujan dengan lebatnya. Suasana di dalam kampus pun nampak sepi dan lengang bak sebuah gedung perkantoran tua yang sudah lama dikosongkan akibat gulung tikar. Karena pada saat itu seluruh mahasiswa memang sedang menikmati masa liburan panjang akhir semesternya. Dimana pada bulan depan kami akan segera menyongsong tahun ajaran baru semester ganjil yang kami harap akan jauh lebih baik dari semester-semester sebelumnya. Jadi tidak ada aktivitas perkuliahan di sana. Namun, di tengah suasana hujan nan syahdu dan di dalam keheningan tersebut, masih ada sebuah ‘gairah’ di salah satu sudut kampus itu. Kami — panitia pelaksana kegiatan buka puasa bersama anak-anak yatim piatu yang bergerak di bawah Departemen Kerohanian Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor — tetap bersemangat dalam mempersiapkan segala elemen pendukung kegiatan yang akan segera berlangsung satu jam lagi.

Tema yang kami usung pada kegiatan tersebut bertajuk “Berbagi Kebahagiaan Menuju Kemenangan.” Jenis acara yang kami suguhkan antara lain: pentas musik akustik dari beberapa mahasiswa dan dosen, atraksi “Seni Tatakolan” (permainan alat musik dari barang-barang bekas) yang ditampilkan oleh UKM Seni Budaya Universitas Pakuan, siraman rohani/ceramah, buka puasa bersama, sholat magrib berjamaah, games dan pembagian santunan kepada anak-anak yatim piatu.

Anak-anak yatim piatu yang kami undang berjumlah 52 orang. Mereka berasal dari kampung-kampung yang terletak di kawasan sekitar kampus. Tadinya kami berencana untuk mengundang lebih dari 100 orang anak yatim piatu. Namun karena terpentok dengan keterbatasan dana, maka yang mampu kami undang hanya setengahnya. Tak apa. Yang penting acara tetap berlangsung dan niat untuk beramal harus tetap dijalankan.

Tamu lain yang hadir memenuhi Auditorium sudah pasti adalah para staff pengajar, Dewan Struktural, seluruh pengurus BEM dan BLM FH UNPAK serta beberapa mahasiswa yang berkenan menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara tersebut.

Lantas, mengapa kita merasa perlu mengadakan kegiatan ini?
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinanti-nantikan oleh seluruh kaum muslimin di dunia. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan ialah sesuatu yang jangan sampai kita lewatkan. Mempererat tali silaturahmi, menyantuni anak-anak yatim piatu/kurang mampu, memberikan makanan kepada mereka yang berbuka puasa dan bersama-sama menghadiri suatu majelis untuk mengikuti ceramah/diskusi keagamaan, tentunya merupakan suatu rentetan kegiatan yang akan sangat berguna untuk kita semua. Apalagi Allah SWT telah berjanji, bahwasanya di bulan penuh rahmat ini Dia akan melipatgandakan segala pahala amal kebajikan yang kita lakukan dengan tulus. Maka perbanyaklah bersedekah, menunaikan sholat malam, menolong sesama dan mengerjakan amal ibadah mulia lainnya. Sebab belum tentu di tahun depan nanti kita akan bertemu kembali dengan indahnya Ramadhan.

Dan karena memang banyak sekali investasi pahala yang dapat kita lakukan di bulan penuh berkah ini. Salah satunya adalah dengan membagi-bagikan makanan kepada orang-orang yang berbuka puasa. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang berbunyi:
“Barangsiapa memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.” (H.R. At – Tirmidzi)

Lalu, kenapa anak yatim?
Islam mengajarkan kita untuk menyantuni anak yatim. Bahkan Al-Qur’an pun membahasnya sebanyak 22 kali. Berarti agama kita memang benar-benar serius dalam memperhatikan nasib anak-anak yatim.

Anak-anak yatim adalah anak-anak yang kerap merasa ‘sendiri’ meskipun mereka sedang dalam keramaian. Anak-anak yatim adalah hati yang selalu merasakan kesenyapan di tengah-tengah keramaian. Sepeninggal Ayah mereka — baik secara moril, materiil maupun psikis — tentunya mereka akan mengalami banyak perubahan di dalam hidupnya. Tak jarang banyak sekali keluarga yang kondisi finansialnya merosot tajam semenjak kehilangan kepala keluarganya.

Rasulullah SAW pun bersabda dalam haditsnya yang berbunyi:
“Sukakah kamu agar hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (H. R. Thabrani).

Kemudian, adapula salah satu ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk saling memberi terhadap sesama dan menyantuni anak-anak yatim, yakni:
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahuinya.” (Q.S Al-Baqarah : 215).

Bahkan negara pun SEHARUSNYA memprioritaskan kepentingan serta kesejahteraan anak-anak yang ‘kurang beruntung’ di dalam hidupnya. Seperti yang tertera pada Pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi:
“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”
Meskipun pada implementasinya masih banyak sekali warga miskin dan anak-anak terlantar yang tinggal di negeri yang — sebenarnya — kaya raya ini.

Dan, kami merasa kami memang telah benar-benar berbagi kebahagiaan. Kami senang bukan main sekaligus bangga melihat gelak tawa yang lepas dari anak-anak yatim piatu yang telah kami undang tersebut. Ketika salah satu kawan kami bernyanyi, mereka pun ikut bernyanyi-nyanyi riang seperti sedang berkaraoke ria bersama rekan sejawat. Mereka hafal setiap lirik lagu yang dibawakan oleh pengisi acara dari awal hingga akhir. Ketika teman-teman dari UKM Seni Budaya tengah berunjuk gigi memainkan alat-alat musiknya, mereka semua ikut bertepuk tangan dan ada beberapa yang berjoget-joget dengan centilnya. Ketika games session digelar, mereka begitu excited bukan kepalang. Berlomba-lomba menjawab pertanyaan dan saling mendahului untuk maju ke muka panggung. Ketika pembagian amplop digelar, ada yang kekeuh meminta dua atau tiga amplop. Adapula beberapa anak yang perilakunya amat menjengkelkan namun tetap membuat ‘hidup’ suasana. Pokoknya ada-ada saja tingkah lucu yang dibuat oleh anak-anak itu. Semuanya nampak ceria. Termasuk kami, para panitia. Dosen-dosen dan Pak Ustadz yang duduk di barisan depan sana juga terlihat cengengesan.

Kegiatan ini memang bukan merupakan kegiatan yang ‘Wah’ dan besar. Tetapi setidaknya, kami sudah melaksanakan salah satu kewajiban kami untuk bisa lebih PEDULI terhadap sesama — disamping dalam menjalankan salah program kerja BEM. Mudah-mudah semua yang terlibat mendapatkan keberkahan dari Yang Maha Penyayang. Terima kasih kami ucapkan yang sedalam-dalamnya kepada yang sudah menyumbangkan tenaga, pikiran dan sedikit rezekinya demi keberlangsungan acara ini. Sungguh, kami senang tiada terkira ketika menerima banyak sekali uluran tangan yang menyodorkan beberapa lembar rupiah kepada kami untuk turut mensukseskan kegiatan kami. Ternyata semangat untuk saling memberi masih tertanam kuat di benak kawan-kawan dan Bapak-Ibu Dosen yang kami hormati.  :)


Regard,
Syafa ^^,

Remah-Remah Rindu dan Bagian Waktu yang Berhasil Kita Kumpulkan

Sekali lagi mari kita uraikan kembali keajaiban di balik mendung.
Menganalisis misteri yang tersimpan pada rotasi bumi & matahari.
Mengapa selalu ada rindu yang membuncah dalam dada?
Di antara tabuhan hujan yang membahana.
Di lantai bianglala yang terhampar setelahnya.

Dan mentari sore pun sudah mulai menggoda kita lagi.
Mengajak berlari-lari di tengah lapang seperti biasa.
Lalu sungguh, hatiku gembira tiada terkira melihat kau tertawa.

Kapan lagi kita bentangkan layang-layang itu, kawan?
Secarik kertas yang pernah kita goreskan tinta ramai-ramai.
Kapan lagi kita teriakkan diam yang terpendam itu, kawan?
Melemparnya pada mulut lazuardi yang siap menerkam.
Ini rindu, kawan!
Pertanyaanku waktu itu belum kau jawab.
Ah, memang yang lalu tak akan pernah sama.

Di tepi jalan yang gelap itu kita pernah terhenti,
menemukan cahaya bagi jiwa yang sempat tersesat di jalur sendiri.
Karena selalu ada semburat masam pada wajah kita yang gagal disembunyikan.
Kau memang pandai membaca tulisan dalam kepalaku.
Pun selalu ada beberapa bagian yang binasa pada masa-masa yang seperti tinggal sisa.

Kita tak mesti harus selalu begini, begitu, seperti ini dan itu.
Ada yang menanti lebih dari yang pernah kita alami.

*Ditulis pada tanggal 3 Juli 2010.

A Letter for My Father

Ketika itu tubuhku belum sebesar ini. Pemikiran yang kumiliki pun masih relatif sempit. Kedewasaan belum terbentuk. Pemahaman mengenai apa yang sedang dan telah terjadi di dalam keluarga belum sepenuhnya kupunya. Yang ku ketahui tentangmu juga hanya seadanya.

Aku mengenalmu sebagai sesosok pria paruh baya yang sebagian rambutnya sudah memutih. Garis-garis halus pun nampak sudah bermunculan di beberapa bagian kulitmu. Namun, kharisma dan kewibawaanmu seakan tak pernah usang dimakan usia.

Aku mengenalmu sebagai seorang kepala keluarga yang hanya pulang ke rumah sekitar dua atau tiga kali dalam seminggu. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaanmu. Atau mungkin kau harus berbagi waktu dengan keluargamu yang lain. Karena kau memang berpoligami, alias memiliki dua orang istri! Dan setahuku, kau memperlakukan istri-istri dan anak-anakmu itu dengan sangat adil.

Yang selalu ku ingat, setiap kali kau pulang ke rumah, kau lantas mengajak kami — aku dan adik-adikku — bermain-main. Padahal tubuhmu terlihat sangat letih. Masih ingatkah ketika kau mengelabui kami dengan trik-trik sulap sederhana yang membuat kami penasaran bukan main sampai ketagihan? Atau ketika kau mendongengkan lelucon-lelucon jenaka sembari memperagakannya dengan gaya konyolmu hingga kami tertawa terpingkal-pingkal? Kau juga sering menceritakan kisah-kisah para Nabi beserta sahabat-sahabatnya yang sungguh menyejukkan hati. Atau legenda-legenda tradisional yang syarat akan pesan moral. Dan di setiap malam ketika kau sedang ada di rumah, kau kerap mengantarkan kami ke alam mimpi dengan lantunan tembang-tembang Jawa yang sesungguhnya tak kami mengerti apa artinya.

Sayang, ketika itu aku masih terlampau belia. Seandainya saja kau masih ada, aku ingin menikmatinya sekali lagi. Mengulang kembali masa-masa indah itu. Merasakannya dengan penuh penghayatan. Aku pun ingin sekali mengajukan segudang pertanyaan kepadamu, yang hingga saat ini belum kutemukan jawabannya.
Aku ingin bertanya, kenapa kau tak pernah memperkenalkan kedua orang tuamu kepada kami? Sehingga kami bisa memanggil mereka dengan sebutan ‘Kakek-Nenek.’ Kenapa kau tak pernah mengajak kami berkunjung ke tempat adik atau kakak-kakakmu? Sehingga aku dapat mengenal mereka sebagai Pakde, Bukde, Om atau Tante. Keapatisan dan kepolosanku saat itu mengurungkan niatku untuk menuntut penjelasan darimu.

Aku juga ingin bertanya lebih dalam mengenai pekerjaanmu. Aku ingin bertanya tentang faktor-faktor apa saja yang membuat usahamu sempat gulung tikar. Aku ingin bertanya tentang masa-masa sekolahmu dulu yang katanya telah mendulang banyak prestasi. Aku ingin bertanya tentang masa-masa kuliahmu beserta pergerakkan mahasiswanya. Aku ingin bertanya seputar pengalamanmu sebagai jurnalis muda di kota kelahiranmu. Aku ingin bertanya tentang bagaimana sejarahnya hingga kau bisa meminang ibuku padahal ketika itu statusmu sudah beristri. Aku ingin bertanya tentang masalah-masalah yang sedang ‘in’ di bidang politik, hukum, sosial, ekonomi dan budaya dari sudut pandangmu. Aku ingin bertanya tentang agama kita — rahmatan lil’alamiin pegangan hidup kita — yang ternyata masih banyak sekali yang tak ku mengerti secara pasti. Aku pun ingin bertanya, hal-hal apa saja yang kau pikirkan di detik-detik terakhir kau bernafas di dunia?

Terus terang, aku lebih banyak mengenalmu dari cerita-cerita yang kerap dikisahkan oleh orang lain. Rasanya belum cukup aku mengenalmu. Mengapa hanya sebentar kau di sini? Padahal aku ingin sekali ‘mengintimkan’ hubungan kita. Bicara dari hati ke hati, berdiskusi mengenai banyak hal, saling bertukar pikiran, pergi bertamasya berdua, mengenalkanmu pada teman-temanku dan mungkin saling mengungkapkan rahasia.

Aku pernah kesal kepadamu, karena pernah tidak ikut merayakan Lebaran bersama kami. Aku sempat bingung terhadapmu, karena belum pernah mengajak kami mengunjungi kampung halamanmu di Yogyakarta. Aku pernah merasa cemburu dan iri hati pada istri pertamamu dan kakak-kakakku disana, karena mereka seperti lebih ‘one step ahead’ ketimbang kami dalam aspek pendidikan — dan tentunya di dalam mengenalmu. Aku pernah terbangun di pertengahan malam, lalu pergi ke kamar mandi dan menangis seorang diri di sana. Karena beberapa jam sebelumya aku baru saja menjengukmu di Rumah Sakit. Dimana kau nampak terkulai lemah tak berdaya saat itu. Dan aku merasa amat sangat menyesal — bahkan sampai sekarang — karena tidak ikut mengurusmu secara kontinyu ketika kau sakit. Hingga akhirnya, penyakit-penyakit itu pun berhasil ‘menculikmu’ dari tengah-tengah kami.

Kau masih seperti misteri yang sulit terpecahkan. Kode-kode yang menunjuk ke arahmu pun rasanya tidak relevan. Kapan aku mampu mengenalmu lebih dekat? Sedangkan kini jasadmu sudah menyatu dengan tanah.

Bapak.. Aku rindu memeluk tubuh kekarmu. Aku rindu mencium aroma khas tubuhmu. Aku rindu mendengarkanmu ber-shalawat. Aku rindu menerima petuah-petuah bijakmu. Aku iri menyaksikan teman-temanku yang sedang asyik bergurau bersama Ayah-ayahnya! Terlebih ketika ku tengah merasakan kesepian dan sangat membutuhkan pertolongan serta pendapatmu, sedang kau sudah tiada lagi berada di dalam kamar tidur atau meja kerjamu. Bahkan di belahan bumi manapun. :(

Oh yaa, rencananya rumah peninggalanmu —yang selepas kepergianmu telah menjadi sumber penghasilan kami — akan segera kami jual untuk memenuhi kebutuhan hidup kami selanjutnya. Cukup berat memang. Bapak sih pergi duluan! Jika saja kau masih ada, mungkin rumah itu akan tetap kita tinggali bersama.

Aku akan selalu mengirimkan doa untukmu. Agar kau tetap baik-baik saja di sana.

Salam untuk Mamah Edah dan Aki Nurdin. Salam untuk Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Kurt Cobain, Michael Jackson, Adolf Hitler, Sutan Sjahrir, Pramoedya Ananta Noer, WS. Rendra, Mbah Surip, Gus Dur dan Ibu Ainun Habibie yang juga sudah mendahului kami. Hheu :)

Regard,
Your Daughter : R. Syafaati Humaerah Suryo ^o^

*Semoga surat ini bisa sampai ke Surga.. Hoho :)

Entahlah..

Sayang, sungguh aku ingin berkata bahwa bahumu sekuat baja.
Tulang dan otot-ototnya sanggup menopang segala lemahku dalam memerankan manusia.
Mungkin beberapa waktu yang lalu kau hanya figuran dalam cerita.
Dan siapalah aku di matamu.
Kini panggung itu laksana singgasana bagi kita mensinergikan rasa.

Kau adalah ilham yang mengawali fajar.
Ketika ribuan sayap kupu-kupu menyerbu menyeruak sukma.
Ketika putihnya awan berpendar di lautan mega.
Ketika rindu menguntit masuk melalui darah yang berdesir.
Ketika tiada yang lebih menghangatkan selain sejurus tatapmu yang memberiku nilai sempurna.

Aku ingin menelaahmu dari sudut pandang yang tak biasa.
Seperti pelukis yang menggoreskan ragam bentuk melalui perspektif yang berbeda-beda.
Aku pernah hendak menangkis sambutmu.
Tetapi hati terhadap logika terlanjur despotis.
Lalu di setiap detik yang bergerak adalah tentangmu.
Selama itu pula kunikmati damai dari hadirmu.

Meski berkasih denganmu seperti berurusan dengan lintah darat.
Kau pinjami segala adamu.
Kelak kukembalikan jua pada sepiku.
Dan di setiap bunga yang harus kubayar mahal adalah cinta yang membesar berkobar.

Ini hanyalah prosa sederhana.
Bukan dongeng yang berakhir abadi sepanjang masa.
Lantas, mengapa tetap berikrar jika sadar tak kan kekal?
Mengapa mau memulai jika pada akhirnya pasti bercerai?
Mereka bilang mungkin sia-sia.
Tapi mengenalmu bagai menemukan sekotak mutiara di tengah samudera.
Darimu kurengkuh kata yang menggelora.
Menghentikan sorak elegi yang mengubur asa.
Ada sejuta pelajaran yang mendewasa.
Ada makna terselip dalam bongkahan dendam yang pernah membatu.
Menyapu kelabu bersama debu yang mengendap kaku.

Terlampau sulit mendefinisikan cinta beserta segala filosofinya.
Karena tiada ungkapan yang paling tepat selain hening dalam dekapmu.
Tak kutemukan makna yang ambigu.
Tak juga ada titik sebagai batas.

Kau yang mengerti segala mimpiku.
Andai kita dapat menghentikan pasir waktu.
Andai yang serba prosedural tak mesti kita kenal.
Andai segala yang beda bisa menjadi sama.
Sungguh, aku masih ingin bersamamu, kasihku.
Terus bersamamu.

Kita tak bisa subversif.
Dan pasif bukan berarti pasrah.
Entah.

-SYAFA-

Ditulis pada tanggal 4 Juni 2010.

SyafaRedLicious: Kepada Matahari

SyafaRedLicious: Kepada Matahari: "Hujan ku mohon diamlah sejenak. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada matahari. Tentang diskusiku bersama bimbang tadi malam. Tenta..."

Aku Suka Bulan Januari

Akan suatu ketika dimana rasa mual itu termuntahkan.
Linu dan kaku tersingkirkan.
Dimana magma memberontak hingga gunung-gunung berapi meletuskan laharnya dengan galak.
Atau seorang ibu hamil yang mulas kesakitan hingga melahirkan anaknya ke dunia.
Lega.

Akan suatu ketika dimana langit menitikkan haru dan peluhnya menunggu lewat sisa-sisa hujan.
Angin malam menelusup ke dalam kulit pelan-pelan.
Harum tanah yang basah.
Menggeliatkan pikiran yang gelisah.
Sementara simfoni suka terus berirama.
Dan ku minta dendangkan lagi lirik itu walau sepenggal.
Seraya maksud hati meminta untuk tinggal.

Lalu dengan lugu engkau menafsirkannya.
Memberi tanda baca pada ejaan kalimat yang belum sempurna.
Memberikan peta pada jiwa yang berkelana.

Manusia-manusia mulia di hadapan kita itu tertawa.
Menyembuhkan mata kita yang dulu buta.
Meluluhkan angkuh.
Katanya indah sungguh.
Tiada hanya itu.
Katanya juga,
karena cinta sudah bicara.

Bogor, 14 Januari 2010.

Kepada Matahari

Hujan ku mohon diamlah sejenak.
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada matahari.
Tentang diskusiku bersama bimbang tadi malam.
Tentang perseteruan bintang dan awan kelam.
Meski tak ada satu pun bahasa yang mampu mendeskripsikan serumit apa fenomena yang terjadi.
Isyarat hanya menampilkan secercah sinar yang tersembunyi.
Sanggupkah matahari memafhumi senyum rembulan?
Meski mereka tak akan pernah sejajar dalam satu kerinduan.
Tapi sesungguhnya aku tahu apa yang terjadi.
Hanya saja sulit untuk berbagi.

-SYAFA-

*Tulisan ini sebenarnya dibuat pada tanggal 15 November 2009. Ketika saya sedang merasakan getar-getar aneh di dalam dada selama beberapa lama. Dan baru saya ketahui apa jenis getaran itu justru ketika hujan sedang mengguyur bumi. Getaran tersebut bernama: CINTA. ;)