Rabu, 01 September 2010

Entahlah..

Sayang, sungguh aku ingin berkata bahwa bahumu sekuat baja.
Tulang dan otot-ototnya sanggup menopang segala lemahku dalam memerankan manusia.
Mungkin beberapa waktu yang lalu kau hanya figuran dalam cerita.
Dan siapalah aku di matamu.
Kini panggung itu laksana singgasana bagi kita mensinergikan rasa.

Kau adalah ilham yang mengawali fajar.
Ketika ribuan sayap kupu-kupu menyerbu menyeruak sukma.
Ketika putihnya awan berpendar di lautan mega.
Ketika rindu menguntit masuk melalui darah yang berdesir.
Ketika tiada yang lebih menghangatkan selain sejurus tatapmu yang memberiku nilai sempurna.

Aku ingin menelaahmu dari sudut pandang yang tak biasa.
Seperti pelukis yang menggoreskan ragam bentuk melalui perspektif yang berbeda-beda.
Aku pernah hendak menangkis sambutmu.
Tetapi hati terhadap logika terlanjur despotis.
Lalu di setiap detik yang bergerak adalah tentangmu.
Selama itu pula kunikmati damai dari hadirmu.

Meski berkasih denganmu seperti berurusan dengan lintah darat.
Kau pinjami segala adamu.
Kelak kukembalikan jua pada sepiku.
Dan di setiap bunga yang harus kubayar mahal adalah cinta yang membesar berkobar.

Ini hanyalah prosa sederhana.
Bukan dongeng yang berakhir abadi sepanjang masa.
Lantas, mengapa tetap berikrar jika sadar tak kan kekal?
Mengapa mau memulai jika pada akhirnya pasti bercerai?
Mereka bilang mungkin sia-sia.
Tapi mengenalmu bagai menemukan sekotak mutiara di tengah samudera.
Darimu kurengkuh kata yang menggelora.
Menghentikan sorak elegi yang mengubur asa.
Ada sejuta pelajaran yang mendewasa.
Ada makna terselip dalam bongkahan dendam yang pernah membatu.
Menyapu kelabu bersama debu yang mengendap kaku.

Terlampau sulit mendefinisikan cinta beserta segala filosofinya.
Karena tiada ungkapan yang paling tepat selain hening dalam dekapmu.
Tak kutemukan makna yang ambigu.
Tak juga ada titik sebagai batas.

Kau yang mengerti segala mimpiku.
Andai kita dapat menghentikan pasir waktu.
Andai yang serba prosedural tak mesti kita kenal.
Andai segala yang beda bisa menjadi sama.
Sungguh, aku masih ingin bersamamu, kasihku.
Terus bersamamu.

Kita tak bisa subversif.
Dan pasif bukan berarti pasrah.
Entah.

-SYAFA-

Ditulis pada tanggal 4 Juni 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar