Sekali lagi mari kita uraikan kembali keajaiban di balik mendung.
Menganalisis misteri yang tersimpan pada rotasi bumi & matahari.
Mengapa selalu ada rindu yang membuncah dalam dada?
Di antara tabuhan hujan yang membahana.
Di lantai bianglala yang terhampar setelahnya.
Dan mentari sore pun sudah mulai menggoda kita lagi.
Mengajak berlari-lari di tengah lapang seperti biasa.
Lalu sungguh, hatiku gembira tiada terkira melihat kau tertawa.
Kapan lagi kita bentangkan layang-layang itu, kawan?
Secarik kertas yang pernah kita goreskan tinta ramai-ramai.
Kapan lagi kita teriakkan diam yang terpendam itu, kawan?
Melemparnya pada mulut lazuardi yang siap menerkam.
Ini rindu, kawan!
Pertanyaanku waktu itu belum kau jawab.
Ah, memang yang lalu tak akan pernah sama.
Di tepi jalan yang gelap itu kita pernah terhenti,
menemukan cahaya bagi jiwa yang sempat tersesat di jalur sendiri.
Karena selalu ada semburat masam pada wajah kita yang gagal disembunyikan.
Kau memang pandai membaca tulisan dalam kepalaku.
Pun selalu ada beberapa bagian yang binasa pada masa-masa yang seperti tinggal sisa.
Kita tak mesti harus selalu begini, begitu, seperti ini dan itu.
Ada yang menanti lebih dari yang pernah kita alami.
*Ditulis pada tanggal 3 Juli 2010.
Menganalisis misteri yang tersimpan pada rotasi bumi & matahari.
Mengapa selalu ada rindu yang membuncah dalam dada?
Di antara tabuhan hujan yang membahana.
Di lantai bianglala yang terhampar setelahnya.
Dan mentari sore pun sudah mulai menggoda kita lagi.
Mengajak berlari-lari di tengah lapang seperti biasa.
Lalu sungguh, hatiku gembira tiada terkira melihat kau tertawa.
Kapan lagi kita bentangkan layang-layang itu, kawan?
Secarik kertas yang pernah kita goreskan tinta ramai-ramai.
Kapan lagi kita teriakkan diam yang terpendam itu, kawan?
Melemparnya pada mulut lazuardi yang siap menerkam.
Ini rindu, kawan!
Pertanyaanku waktu itu belum kau jawab.
Ah, memang yang lalu tak akan pernah sama.
Di tepi jalan yang gelap itu kita pernah terhenti,
menemukan cahaya bagi jiwa yang sempat tersesat di jalur sendiri.
Karena selalu ada semburat masam pada wajah kita yang gagal disembunyikan.
Kau memang pandai membaca tulisan dalam kepalaku.
Pun selalu ada beberapa bagian yang binasa pada masa-masa yang seperti tinggal sisa.
Kita tak mesti harus selalu begini, begitu, seperti ini dan itu.
Ada yang menanti lebih dari yang pernah kita alami.
*Ditulis pada tanggal 3 Juli 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar