Akan suatu ketika dimana rasa mual itu termuntahkan.
Linu dan kaku tersingkirkan.
Dimana magma memberontak hingga gunung-gunung berapi meletuskan laharnya dengan galak.
Atau seorang ibu hamil yang mulas kesakitan hingga melahirkan anaknya ke dunia.
Lega.
Akan suatu ketika dimana langit menitikkan haru dan peluhnya menunggu lewat sisa-sisa hujan.
Angin malam menelusup ke dalam kulit pelan-pelan.
Harum tanah yang basah.
Menggeliatkan pikiran yang gelisah.
Sementara simfoni suka terus berirama.
Dan ku minta dendangkan lagi lirik itu walau sepenggal.
Seraya maksud hati meminta untuk tinggal.
Lalu dengan lugu engkau menafsirkannya.
Memberi tanda baca pada ejaan kalimat yang belum sempurna.
Memberikan peta pada jiwa yang berkelana.
Manusia-manusia mulia di hadapan kita itu tertawa.
Menyembuhkan mata kita yang dulu buta.
Meluluhkan angkuh.
Katanya indah sungguh.
Tiada hanya itu.
Katanya juga,
karena cinta sudah bicara.
Bogor, 14 Januari 2010.
Linu dan kaku tersingkirkan.
Dimana magma memberontak hingga gunung-gunung berapi meletuskan laharnya dengan galak.
Atau seorang ibu hamil yang mulas kesakitan hingga melahirkan anaknya ke dunia.
Lega.
Akan suatu ketika dimana langit menitikkan haru dan peluhnya menunggu lewat sisa-sisa hujan.
Angin malam menelusup ke dalam kulit pelan-pelan.
Harum tanah yang basah.
Menggeliatkan pikiran yang gelisah.
Sementara simfoni suka terus berirama.
Dan ku minta dendangkan lagi lirik itu walau sepenggal.
Seraya maksud hati meminta untuk tinggal.
Lalu dengan lugu engkau menafsirkannya.
Memberi tanda baca pada ejaan kalimat yang belum sempurna.
Memberikan peta pada jiwa yang berkelana.
Manusia-manusia mulia di hadapan kita itu tertawa.
Menyembuhkan mata kita yang dulu buta.
Meluluhkan angkuh.
Katanya indah sungguh.
Tiada hanya itu.
Katanya juga,
karena cinta sudah bicara.
Bogor, 14 Januari 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar