Rabu, 01 September 2010

A Letter for My Father

Ketika itu tubuhku belum sebesar ini. Pemikiran yang kumiliki pun masih relatif sempit. Kedewasaan belum terbentuk. Pemahaman mengenai apa yang sedang dan telah terjadi di dalam keluarga belum sepenuhnya kupunya. Yang ku ketahui tentangmu juga hanya seadanya.

Aku mengenalmu sebagai sesosok pria paruh baya yang sebagian rambutnya sudah memutih. Garis-garis halus pun nampak sudah bermunculan di beberapa bagian kulitmu. Namun, kharisma dan kewibawaanmu seakan tak pernah usang dimakan usia.

Aku mengenalmu sebagai seorang kepala keluarga yang hanya pulang ke rumah sekitar dua atau tiga kali dalam seminggu. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaanmu. Atau mungkin kau harus berbagi waktu dengan keluargamu yang lain. Karena kau memang berpoligami, alias memiliki dua orang istri! Dan setahuku, kau memperlakukan istri-istri dan anak-anakmu itu dengan sangat adil.

Yang selalu ku ingat, setiap kali kau pulang ke rumah, kau lantas mengajak kami — aku dan adik-adikku — bermain-main. Padahal tubuhmu terlihat sangat letih. Masih ingatkah ketika kau mengelabui kami dengan trik-trik sulap sederhana yang membuat kami penasaran bukan main sampai ketagihan? Atau ketika kau mendongengkan lelucon-lelucon jenaka sembari memperagakannya dengan gaya konyolmu hingga kami tertawa terpingkal-pingkal? Kau juga sering menceritakan kisah-kisah para Nabi beserta sahabat-sahabatnya yang sungguh menyejukkan hati. Atau legenda-legenda tradisional yang syarat akan pesan moral. Dan di setiap malam ketika kau sedang ada di rumah, kau kerap mengantarkan kami ke alam mimpi dengan lantunan tembang-tembang Jawa yang sesungguhnya tak kami mengerti apa artinya.

Sayang, ketika itu aku masih terlampau belia. Seandainya saja kau masih ada, aku ingin menikmatinya sekali lagi. Mengulang kembali masa-masa indah itu. Merasakannya dengan penuh penghayatan. Aku pun ingin sekali mengajukan segudang pertanyaan kepadamu, yang hingga saat ini belum kutemukan jawabannya.
Aku ingin bertanya, kenapa kau tak pernah memperkenalkan kedua orang tuamu kepada kami? Sehingga kami bisa memanggil mereka dengan sebutan ‘Kakek-Nenek.’ Kenapa kau tak pernah mengajak kami berkunjung ke tempat adik atau kakak-kakakmu? Sehingga aku dapat mengenal mereka sebagai Pakde, Bukde, Om atau Tante. Keapatisan dan kepolosanku saat itu mengurungkan niatku untuk menuntut penjelasan darimu.

Aku juga ingin bertanya lebih dalam mengenai pekerjaanmu. Aku ingin bertanya tentang faktor-faktor apa saja yang membuat usahamu sempat gulung tikar. Aku ingin bertanya tentang masa-masa sekolahmu dulu yang katanya telah mendulang banyak prestasi. Aku ingin bertanya tentang masa-masa kuliahmu beserta pergerakkan mahasiswanya. Aku ingin bertanya seputar pengalamanmu sebagai jurnalis muda di kota kelahiranmu. Aku ingin bertanya tentang bagaimana sejarahnya hingga kau bisa meminang ibuku padahal ketika itu statusmu sudah beristri. Aku ingin bertanya tentang masalah-masalah yang sedang ‘in’ di bidang politik, hukum, sosial, ekonomi dan budaya dari sudut pandangmu. Aku ingin bertanya tentang agama kita — rahmatan lil’alamiin pegangan hidup kita — yang ternyata masih banyak sekali yang tak ku mengerti secara pasti. Aku pun ingin bertanya, hal-hal apa saja yang kau pikirkan di detik-detik terakhir kau bernafas di dunia?

Terus terang, aku lebih banyak mengenalmu dari cerita-cerita yang kerap dikisahkan oleh orang lain. Rasanya belum cukup aku mengenalmu. Mengapa hanya sebentar kau di sini? Padahal aku ingin sekali ‘mengintimkan’ hubungan kita. Bicara dari hati ke hati, berdiskusi mengenai banyak hal, saling bertukar pikiran, pergi bertamasya berdua, mengenalkanmu pada teman-temanku dan mungkin saling mengungkapkan rahasia.

Aku pernah kesal kepadamu, karena pernah tidak ikut merayakan Lebaran bersama kami. Aku sempat bingung terhadapmu, karena belum pernah mengajak kami mengunjungi kampung halamanmu di Yogyakarta. Aku pernah merasa cemburu dan iri hati pada istri pertamamu dan kakak-kakakku disana, karena mereka seperti lebih ‘one step ahead’ ketimbang kami dalam aspek pendidikan — dan tentunya di dalam mengenalmu. Aku pernah terbangun di pertengahan malam, lalu pergi ke kamar mandi dan menangis seorang diri di sana. Karena beberapa jam sebelumya aku baru saja menjengukmu di Rumah Sakit. Dimana kau nampak terkulai lemah tak berdaya saat itu. Dan aku merasa amat sangat menyesal — bahkan sampai sekarang — karena tidak ikut mengurusmu secara kontinyu ketika kau sakit. Hingga akhirnya, penyakit-penyakit itu pun berhasil ‘menculikmu’ dari tengah-tengah kami.

Kau masih seperti misteri yang sulit terpecahkan. Kode-kode yang menunjuk ke arahmu pun rasanya tidak relevan. Kapan aku mampu mengenalmu lebih dekat? Sedangkan kini jasadmu sudah menyatu dengan tanah.

Bapak.. Aku rindu memeluk tubuh kekarmu. Aku rindu mencium aroma khas tubuhmu. Aku rindu mendengarkanmu ber-shalawat. Aku rindu menerima petuah-petuah bijakmu. Aku iri menyaksikan teman-temanku yang sedang asyik bergurau bersama Ayah-ayahnya! Terlebih ketika ku tengah merasakan kesepian dan sangat membutuhkan pertolongan serta pendapatmu, sedang kau sudah tiada lagi berada di dalam kamar tidur atau meja kerjamu. Bahkan di belahan bumi manapun. :(

Oh yaa, rencananya rumah peninggalanmu —yang selepas kepergianmu telah menjadi sumber penghasilan kami — akan segera kami jual untuk memenuhi kebutuhan hidup kami selanjutnya. Cukup berat memang. Bapak sih pergi duluan! Jika saja kau masih ada, mungkin rumah itu akan tetap kita tinggali bersama.

Aku akan selalu mengirimkan doa untukmu. Agar kau tetap baik-baik saja di sana.

Salam untuk Mamah Edah dan Aki Nurdin. Salam untuk Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Kurt Cobain, Michael Jackson, Adolf Hitler, Sutan Sjahrir, Pramoedya Ananta Noer, WS. Rendra, Mbah Surip, Gus Dur dan Ibu Ainun Habibie yang juga sudah mendahului kami. Hheu :)

Regard,
Your Daughter : R. Syafaati Humaerah Suryo ^o^

*Semoga surat ini bisa sampai ke Surga.. Hoho :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar