Tiba-tiba saya merasa sedikit bosan dengan hari-hari saya. Dengan aktivitas dan mobilitas saya yang begini-begini saja. Bukan, bukan berarti hidup saya tidak bahagia. So far, my life’s so happy and always full of delightful things. Saya juga masih merasa 'kurang' dengan apa yang pernah saya dapatkan selama ini. Because every peoples are never feel satisfied. Termasuk juga saya.
Terkadang, saya juga menginginkan sesuatu yang 'lebih' pada kualitas diri saya. Saya akui saya masih belum ada apa-apanya. Saya masih terlampau bodoh untuk mengatakan bahwa diri saya 'mampu', 'bisa', 'dapat', 'sanggup' dan sejenisnya. Namun jujur, saya memiliki sifat iri hati yang teramat besar terhadap orang lain. Lebih tepatnya, iri hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas, edukasi, prestasi, kemampuan ataupun bakat yang dimiliki oleh seseorang. Bukan iri pada sesuatu yang bersifat semu semata yang lebih mencirikan hedonisme, materialistis bahkan konsumerisme.
Diantaranya:
Saya seringkali iri apabila ada beberapa teman saya yang Indeks Prestasi Kumulatif-nya lebih tinggi daripada saya.
Saya juga iri apabila berkenalan dengan orang-orang sebaya saya yang dapat dengan fasih menggunakan bahasa asing secara baik dan benar. Sedangkan Bahasa Inggris saya saja masih sangat pas-pasan.
Saya iri membaca tulisan-tulisan hasil buah pikir orang lain yang di setiap kata per katanya mengandung sejuta makna, berbobot dan indah dibaca. Sedangkan tulisan-tulisan saya masih jauh dari kata 'bermutu'. Perbendaharaan kata masih beku dan ide terkadang buntu.
Saya iri menyaksikan orang yang pandai berbicara di depan umum tanpa rasa nervous dan kaku sedikitpun. Sedangkan setiap kali saya mencoba mempraktekkan ilmu public speaking saya yang sempat saya dapatkan dari buku, artikel media massa maupun seminar, rasanya tidak pernah maksimal. Substansi tema kerapkali terlupakan karena termakan oleh over basa-basi, larinya konsentrasi dan rasa grogi.
Saya iri melihat orang-orang cerdas yang kerap berseliweran di depan mata saya. Dimana kecerdasannya bersatu padu dengan kharisma dan kerendahan hati yang terpancar di setiap tutur kata serta tingkah lakunya.
Saya iri pada teman yang telah banyak membaca lebih dari ratusan judul buku. Sehingga isi kepalanya pun seakan penuh dengan wawasan, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Sedangkan masih banyak sekali buku-buku best seller yang belum pernah saya konsumsi dan saya pahami sama sekali.
Saya iri kepada teman-teman di kampus lain yang organisasi kemahasiswaannya dapat maju secara pesat. Kualitas setiap pengurusnya patut diacungi jempol. Solidaritas dan kekompakkannya pun terpelihara dengan baik. Setiap proker terlaksana sesuai harapan. Event-event yang digelar selalu sukses dan mampu mendatangkan manfaat bagi khalayak luas.
Saya iri melihat orang-orang 'berhasil' yang sudah mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri tanpa perlu menadahkan telapak tangan lagi ke hadapan orang tua.
Saya iri pada kawan-kawan saya yang sudah pernah mengunjungi tempat-tempat unik nan menakjubkan impian saya. Sedangkan saya sendiri masih dalam taraf memimpikannya dan belum mempunyai kesempatan untuk menginjak tanahnya, apalagi menikmati pesonanya.
Saya iri kepada anak-anak yang orang tuanya mampu membayar isi ulang modem internet per bulannya untuk digunakan sesuka hati oleh anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut dapat dengan mudah mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. Disamping itu orang tuanya pun sanggup membiayai anak-anaknya untuk mengikuti kursus di sana-sini. Sehingga skill yang dimiliki si anak kian berkembang bahkan bertambah.
Saya juga iri melihat orang-orang di luar sana yang sudah lebih dulu melanglang buana, yang lebih one step ahead di segala bidang dan lebih beruntung karena mampu mengenyam pendidikan di tempat-tempat yang sangat prestisius serta bergengsi.
Mereka bisa, mengapa saya tak bisa? Tapi saya BELUM bisa…
Sekarang, saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan? Saya memiliki banyak mimpi. Tetapi ke-irihati-an saya tersebut kerap menjadikan saya rendah diri (minder) dan membuat saya bertanya-tanya: "Apakah saya akan mampu — atau bahkan akan lebih hebat — dari mereka?" Tapi di sisi lain, hal-hal seperti itu justru seolah-olah telah 'memecut' saya. Laksana seekor kuda yang sudah kelelahan kemudian bokongnya dipecut dengan keras oleh Pak Kusir yang sedang berkuda, agar si kuda tersebut dapat kembali berlari dengan kencang.
Hmm.. Singkatnya, sekarang saya sedang menginginkan suatu PERUBAHAN. Yang jelas, saya tidak ingin stuck di sini terus! Hanya berkutat pada 'itu-itu' saja. Saya menginginkan suasana baru. Aktivitas baru. Orang-orang baru. Saya ingin memasuki sebuah dunia baru. Mungkin dengan memasuki suatu komunitas baru atau kegiatan baru yang bisa saya seriuskan. Dimana di dalamnya saya dapat mengembangkan potensi yang saya miliki, bersibuk-sibuk ria, mengisi waktu di dalam hidup saya yang singkat ini dengan hal-hal yang positif, menambah jaringan, berkenalan dan menjalin persahabatan dengan teman-teman baru (yang jauh lebih kreatif) serta mengais pengalaman baru. Apa yaa??
Regards,
Syafa :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar