Selasa, 19 Oktober 2010

Proposal Kegiatan "SIMAPRO" (Diskusi Mahasiswa Progresif)

I. PENDAHULUAN


Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa organisasi mahasiswa beserta segenap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor itu sendiri, dapat dikatakan TELAH MENGALAMI KEMUNDURAN. Yakni ketidakmajuan di dalam aspek prestasi akademis, menurunnya eksistensi lembaga kemahasiswaan, kurangnya pengabdian kepada masyarakat, akreditasi yang turun dari A ke B, dan juga gairah mahasiswanya yang kian lesu yang seakan-akan telah kehilangan semangat, idealisme serta sensitivitas intelektualnya. Dimana prinsip hedonisme, pertimbangan yang penuh dengan ekonomisasi serta rasa apatis terhadap ilmu pengetahuan, kemajuan informasi, almamater, negara dan bangsa telah mendegradasi kemampuan yang sebetulnya mereka miliki.

Disini kami selaku pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) periode tahun 2010 yang bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum dan Demokrasi Fakultas Hukum Universitas Pakuan, merasa sangat prihatin atas kondisi tersebut. Kami, pengurus BEM dan BLM, seluruh anggota PSHD, jajaran struktural kampus, para pengajar serta beberapa mahasiswa yang masih peduli, tidak ingin menyaksikan itu semua terus menerus memenjarakan kami. Kami tidak ingin mahasiswa — yang seharusnya selalu ‘gelisah’, selalu merasa haus akan ilmu dan selalu ‘ketagihan’ dalam melakukan suatu perubahan — malah terkungkung dalam dunia pragmatis yang semu dan merugikan. Kami pun bermaksud untuk mampu menghilangkan sikap hedonis dan individualistis para mahasiswa yang justru akan melahirkan bibit-bibit ketidakkompakkan yang destruktif.

Oleh karena itu, kami sebagai pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa — yang bergerak di bawah Departemen Pendidikan dan Penalaran — beserta Pusat Studi Hukum dan Demokrasi Fakultas Hukum Universitas Pakuan merasa perlu untuk membuat suatu wadah baru guna meminimalisir hal-hal tersebut. Kami berencana membentuk sebuah Forum Diskusi Ilmiah yang akan dengan rutin diselenggarakan setiap satu kali dalam seminggu guna menunjang perkuliahan mahasiswa di dalam kampus. Dimana forum diskusi sederhana ini terbuka bagi seluruh elemen kampus yang memang berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut setiap minggunya.

Dengan dibentuknya Forum Diskusi Ilmiah ini, kami berharap akan ada sedikit kemajuan dan perubahan yang dimiliki oleh kampus ini — almamater yang sangat kami cintai yang biar bagaimana pun telah amat berjasa dalam membesarkan kami. Sehingga wawasan yang dimiliki oleh mahasiswa akan kian bertambah guna bekal mereka di masa mendatang. Dan sebagai calon-calon praktisi hukum yang handal, diharapkan mereka pun sanggup meningkatkan kemampuan analisis dan juga kecerdasan intelektualnya.

Karena kami pun percaya, bahwa masih banyak segelintir mahasiswa di kampus ini yang ‘berpotensi’ dan benar-benar memiliki kualitas diri untuk dikembangkan, diapresiasikan serta disalurkan.

II. DASAR PEMIKIRAN
 

“Pikiran Anda bukanlah bejana yang menanti untuk diisi, tetapi api yang perlu dinyalakan!”
(Dorothea Bande)

Dengan memperhatikan metode perkuliahan di dalam kelas yang sebagian besar berbentuk teori — seperti doktrin-doktrin ilmu pengetahuan, catatan yang hanya didiktekan saja oleh sebagian dosen, materi yang hanya terpaut pada buku dan juga himpunan Undang-Undang — rasanya diperlukan suatu metode baru yang lebih mudah untuk dipahami. Yakni dalam bentuk studi kasus atau pengkajian ilmiah dengan suasana diskusi yang menyenangkan, narasumber yang kompeten di bidangnya serta tema/bahan-bahan yang up to date.

Agar dengan dibukanya jendela informasi baru, tersajinya bahan-bahan diskusi yang menarik, sembari ditemani oleh narasumber dan moderator, para mahasiswa pun akan dapat secara ‘bebas’ saling bertanya-jawab dan mengemukakan pendapatnya. Setiap issue-issue hangat yang tengah mencuat di tengah masyarakat maupun permasalahan atau kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum, politik dan sosial, dikupas tuntas bersama. Sehingga mahasiswa-mahasiswa yang berpikiran kritis dan peduli terhadap kualitas diri tidak akan lagi merasakan kekurangan.

Beberapa tahun silam, Fakultas Hukum Universitas Pakuan pernah mempunyai wahana ini. Sebuah forum diskusi yang eksistensinya cukup berpengaruh dan selalu diminati oleh sebagian besar mahasiswa. Namun, karena satu dan lain hal, terjadilah kevakuman pada lembaga kemahasiswaan di Fakultas Hukum Universitas Pakuan. Untuk itu, kami berniat untuk membangunkannya kembali. Agar kampus ini benar-benar ‘hidup’ dan dinamis. Seperti kampus-kampus bonafit lainnya yang mahasiswanya gemar sekali membaca dan berdiskusi, yang hobi mengkaji serta menganalis apa saja yang berkorelasi dengan bidang yang ditekuninya, yang rajin menorehkan prestasi hingga mampu mempopulerkan almamaternya sendiri.


III. MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

Kegiatan ini kami selenggarakan dengan maksud untuk menjalankan salah satu program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan guna menciptakan suatu wahana baru yang lebih edukatif. Dengan tujuan-tujuan yang lebih spesifik antara lain:

1.     Meningkatkan kecerdasan intelektual mahasiswa dengan meningkatkan daya analisis, memperluas wawasan, memperkokoh idealisme, menumbuhkan semangat perubahan dan menyuburkan pemikiran kritis mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan.
2.     Sebagai ‘suplemen’ tambahan bagi perkuliahan di dalam kampus.
3.     Agar mahasiswa dapat lebih memahami dengan baik cara bagaimana menyikapi, menganalisis serta menyelesaikan suatu permasalahan/kasus-kasus hukum, sosial dan politik yang terjadi di pemerintahan maupun di tengah-tengah masyarakat secara lebih komprehensif.
4.     Sebagai wadah untuk memelihara tali silaturahmi antar mahasiswa dengan mahasiswa, dosen dengan dosen dan mahasiswa dengan dosen. Sebab di samping sebagai ‘ruang penyedia pengetahuan’, forum diskusi ini juga dapat berfungsi sebagai tempat dimana para mahasiswa dapat berkumpul dan saling menyatu dalam suatu majelis yang positif dan bermanfaat.
5.     Dalam rangka merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.


IV. NAMA KEGIATAN
 

FORUM DISKUSI ILMIAH
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR
“SIMAPRO”
(DISKUSI MAHASISWA PROGRESIF)


V. TEMA KEGIATAN

Tema yang kami pilih di dalam kegiatan ini adalah:
“Berfikir, Bertindak dan Berubah”


VI. SASARAN


Forum Diskusi Ilmiah ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dan seluruh pengajar Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor.

VII. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN


Kegiatan Forum Diskusi Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor ini akan diselenggarakan setiap satu minggu sekali, yakni:

Setiap hari                           : Selasa (akan ditetapkan sebagai “Hari Diskusi”)
Waktu kegiatan                   : Pkl. 15.00 – 16.45 WIB
Tempat Pelaksanaan             : Aula Soepomo – Gedung Fakultas Hukum Universitas Pakuan
Bogor

 
VIII. SUSUNAN KEPANITIAAN

(Terlampir)

IX. SUSUNAN ACARA

(Terlampir)


X. RINCIAN ANGGARAN YANG DIBUTUHKAN

(Terlampir)

XI. PENUTUP


Demikian proposal ini kami rampungkan. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Kami sangat menaruh harapan besar bahwa Bapak/Ibu dapat dengan ikhlas membantu kami dalam mewujudkan mimpi-mimpi kami tersebut. Kami ingin kampus ini — yang dulu sempat berjaya dengan sebutan ‘Kampus Perjuangan Rakyat’ dan pernah menggenggam akreditasi A (sangat baik) — sanggup mengulangi kejayaannya tersebut. Bahkan jauh lebih baik lagi. Ini tak hanya sekedar proposal, tapi suatu konsep yang di dalamnya tersimpan sebuah cara untuk memajukan kembali potensi akademis para mahasiswa di kampus ini. Setidaknya sedikit perubahan lebih baik daripada tidak berusaha untuk melakukannya sama sekali.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.


Hormat Kami,

Departemen Pendidikan dan Penalaran BEM FH UNPAK
Arief Irfansyah & R. Syafaati Humaerah Suryo


Sabtu, 11 September 2010

Hari Sejuta Maaf

Maaf.
Meski hari ini ia diobral dengan murah,
namun ia tetap prestisius, indah nan megah.
Seyogyanya ia datang dari muara ketulusan, sesal yang mendewasakan dan khilaf yang tak kan terulang.
Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kawan.
Dan segala keterbatasan ini kerap membentuk luka yang berbalut dendam.
Untuk itu saya mohonkan maaf pada kebesaran hatimu.
Semoga amal ibadah kita diterima oleh-Nya.
Amin.



Saya, R. Syafaati Humaerah Suryo beserta keluarga besar mengucapkan:
*Selamat merasakan serunya mudik
*Selamat mengenakan baju baru
*Selamat menikmati aneka hidangan hari raya
*Selamat berkumpul bersama keluarga, dan
*Selamat kembali ke fitrah..

Taqoballalahu minnal waminkum,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H.
Minal aidhin wal faidzin, Mohon dimaafkan lahir dan batin :))

Regard,
-Syafa-

Jumat, 10 September 2010

Seloyang 'Kue Maaf' Untuk Dibagikan, Tapi Mohon Jangan Kau Buang Bila Kau Enggan

Alhamdulillah..
Pertama-tama saya ucapkan syukur yang tiada terkira kepada Tuhan saya, Allah SWT, atas segala nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada diri saya yang berlumuran dosa ini. Semoga Allah SWT bersedia mengampuni segala nista, salah dan lupa yang pernah kita perbuat.

Di hari yang fitri nan indah ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf, penyesalan, rasa haru, ungkapan terima kasih dan kegembiraan saya kepada 'manusia-manusia mulia' yang selama ini dekat dengan saya. Kalian yang selalu ada di samping saya ketika saya sedang dalam keadaan susah dan senang, sedih maupun bahagia.

PERTAMA,
Untuk IBU saya. Ia yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan saya. Mendidik saya. Mengarahkan saya menuju kebaikan dan kebenaran. Ia yang pernah menjadi seorang single parent nan tangguh selama beberapa tahun selepas Bapak saya meninggal dunia.

Ia yang cerewet, agak lebay, riweuh dan terkadang over protected. Namun tetap pengertian. Ia yang selalu mengabulkan segala permintaan saya jika ia memang mampu untuk merealisasikannya. Ia yang sabar apabila saya membentaknya, menjutekinya dan bahkan marah-marah padanya. Tetap memanjakan saya meskipun saya sudah sedikit bersikap kasar padanya. Ia yang kerap melarang saya untuk membantunya di dapur dan malah memerintahkan saya untuk belajar serta beristirahat saja di dalam kamar. Ia yang selalu memuji-muji saya, membangga-banggakan saya di hadapan sanak saudara dan teman-temannya. Padahal saya merasa, saya sama sekali belum pantas untuk dibanggakan. Ia yang menaruh harapan besar pada saya. Ia yang sangat saya cintai dengan segenap jiwa dan raga saya.

Maafkan saya Ibu, atas segala kesalahan-kesalahan saya selama ini. Atas ucapan dan tingkah laku saya yang pernah menyakiti hatimu. Maaf karena sering membohongimu. Maaf karena jarang membantumu memasak dan membersihkan rumah. Maaf karena saya lebih sering menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman daripada bersama keluarga. Maaf karena diam-diam saya sering ber-KKN ria dalam mengajukan dana untuk memenuhi keperluan saya. Maaf karena pernah melanggar apa yang telah kau terapkan dalam peraturan yang kau buat. Maaf karena belum bisa menjadi apa yang benar-benar kau inginkan.

KEDUA,
Untuk BAPAK saya yang telah lebih dulu sampai di Surga. Tiga belas tahun lamanya ia menemani saya di dunia yang fana ini. Masih terekam dengan jelas, momen-momen berkesan apa saja yang pernah kami lalui bersama. Masih teringat dengan lekat, ilmu dan nasihat-nasihat yang pernah ia hidangkan untuk saya. Meskipun hingga saat ini, nasihat dan segala perintahnya tersebut belum mampu saya penuhi serta saya laksanakan seratus persen.

Maafkan saya, Bapak, Mungkin saya lebih sering mengirimkan dosa-dosa saya yang saya kerjakan di sini ketimbang mengirimkan doa untukmu. Maaf karena sepeninggal dirimu, saya kerapkali mengecewakanmu di sana. Saya berjanji, saya akan lebih baik lagi.

KETIGA,
Untuk ADIK-ADIK dan SEPUPU-SEPUPU saya yang bandel-bandel, rese dan menyebalkan. Namun adakalanya mereka berubah menjadi amat menyenangkan. Maaf karena selama ini saya lebih sering mengeluarkan amarah yang meledak-ledak daripada memberikan contoh yang baik untuk kalian tiru. Maaf atas tutur kata yang selalu ketus dan cenderung kasar. Maaf karena saya terbilang keras dan sedikit frontal dalam memberikan masukan serta nasihat. Maaf atas keegoisan, ketakaburan dan keapatisan saya. Maaf atas sikap saya yang membuat kalian kesal. Maaf karena belum bisa menjadi seorang Kakak yang baik. Maaf karena belum dapat menepati janji untuk sanggup menafkahi kalian. Mungkin nanti, doakan saja. Ketahuilah, sesungguhnya saya sangat menyayangi kalian.

KEEMPAT,
Untuk AYAH TIRI saya yang biasa saya panggil dengan sebutan PAPA. Sesungguhnya ia sangat baik sekali. Penyayang, penyabar dan pengertian. Meskipun ia bukan Ayah kandung saya, tetapi kami (saya dan ketiga adik saya) sangat menghormati dan menyayanginya.

Terima kasih sudah menjaga dan melindungi kami. Terima kasih telah mengusir penyakit kesepian yang pernah Ibu saya derita. Terima kasih sudah merawat saya ketika saya sedang sakit. Terima kasih sudah mau membetulkan barang-barang saya yang rusak. Terima kasih sudah menjadi tempat bertanya sekaligus teman sharing yang asyik dalam beberapa hal. Terima kasih karena sering membela saya ketika saya tengah cek-cok dengan Ibu saya. Terima kasih sudah bersedia menjadi 'supir' yang setia mengantarkan saya kemana-mana. Maaf atas segala khilaf yang pernah saya perbuat.

KELIMA,
Untuk SAHABAT-SAHABAT saya dari semenjak saya bersekolah di TK Amaliah, SD Amaliah, TPA Amaliah, SMP Negeri 3 Bogor, SMA PGRI 1 Bogor, hingga kini saya melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor. Meski pada awalnya kampus ini bukanlah kampus yang saya harapkan, tetapi ternyata, di sini saya telah menemukan banyak sekali harta karun. Teman-teman, dosen-dosen, rekan organisasi dan, ehem.. pacar saya, yang semuanya begitu baik kepada saya. Mungkin ini memang jalan yang Tuhan pilihkan untuk saya dalam menggapai seluruh cita-cita saya. Langkah awal saya.

Untuk teman-teman saya di SD, SMP dan SMA, maaf apabila saat ini saya sudah jarang berkumpul, bermain dan berbagi cerita lagi bersama kalian. Bukan berarti saya melupakan kalian. Percayalah, saya masih dan akan terus menyayangi kalian.

Pun untuk teman-teman yang lain. Para tetangga, teman sewaktu mengaji dulu, kawan-kawan di tempat kursus, teman nongkrong, temannya teman saya, temannya pacar saya, temannya adik dan saudara saya, temannya mantan saya, mantan-mantan saya itu sendiri, teman di dunia maya, teman kenal selewat, teman berbisnis, partner dalam bekerja dan berorganisasi, partner in crime, dsb, saya memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala keterbatasan dan kekhilafan saya. Terima kasih karena telah care, perhatian, bersikap manis dan menyayangi saya secara tulus. Thanks for your help and your kindness. Dan terima kasih telah memberikan segudang inspirasi serta pelajaran hidup yang berarti.

KEENAM,
Untuk GURU-GURU, DOSEN, BAPAK USTADZ dan IBU USTADZAH yang telah mengenyahkan dahaga saya akan ilmu. Terima kasih atas petuah-petuah yang menyejukkan, ilmu yang bermanfaat, pengalaman yang dibagikan, kritik dan saran yang membangun serta contoh yang tepat untuk saya ikuti. Bahkan saya tidak akan mungkin sanggup menulis tulisan ini jika saya tidak pernah mengenal kalian. Maka, mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya untuk diri saya.

KETUJUH,
Untuk PACAR saya saat ini: Taruli Tua Tampubolon. Pria yang awalnya saya nilai aneh, misterius namun sangat unik dan menyenangkan. Ia sungguh 'berbeda' dari pria-pria lain yang saya kenal — setidaknya menurut saya. Ia telah berhasil meluluhkan hati saya. Setelah sebelumnya saya pernah merasakan sakit hati bukan kepalang terhadap beberapa pria. Kemudian ia pun datang dan mengobatinya. Pria yang tidak disangka-sangka. Yang sebetulnya selama ini 'dekat' sekali dengan saya. Tapi saya tidak menyadarinya. Cinta memang sulit diterka, kawan. Sering datang tiba-tiba, unpredictable, sukar dipercaya, lucu dan mampu membuat orang yang cerdas menjadi bodoh, yang waras pun bisa saja berubah setengah gila.

Wahai 'Sahabat Jadi Cinta'-ku, terima kasih atas perhatian yang selama ini selalu kau curahkan. Terima kasih atas nasihat, saran, kritik, wawasan baru, kisah-kisah dan inspirasi yang pernah kau sajikan. Terima kasih karena sudah sangat mengerti akan diri saya. Terima kasih sudah bersedia menerima saya apa adanya. Terima kasih sudah melengkapi kekurangan dan kekosongan pada diri saya. Terima kasih sudah menjadi tempat untuk saya bertanya, berbagi cerita, berkeluh kesah, menangis, memohon pendapat, berdiskusi dan bermimpi. Terima kasih sudah menjadi sahabat sekaligus kekasih saya. Terima kasih sudah mau menemani saya kemana pun saya pergi dan beraktivitas. Terima kasih atas toleransi beragama yang kau lakukan pada saya dan kawan-kawan kita yang lain. Terima kasih atas KETULUSAN yang pernah kau ajarkan. Terima kasih atas CINTA dan KASIH SAYANG yang telah kau persembahkan kepada saya.

Maafkan saya, karena belum mampu membuatmu bahagia. Maafkan saya karena kerap menjengkelkan. Maafkan atas keegoisan dan amarah yang pernah saya tumpahkan. Maafkan saya karena tidak secantik dan tidak secerdas wanita-wanita di luar sana. Maaf atas sifat saya yang mudah sekali cemburu. Maafkan bila ada hal-hal yang bertentangan dengan pemikiranmu. Maafkan atas segala ucapan, perbuatan, tulisan maupun tingkah laku yang kurang berkenan di hatimu. Pokoknya Kita mulai dari NOL lagi yaa!

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1431 H.

Regard,
R. Syafaati Humaerah Suryo
Tajur – Kota Bogor, 10 September 2010
Ditulis Pkl. 02.00 WIB

Minggu, 05 September 2010

Kontemplasi di Dini Hari yang Sepi

Tiba-tiba saya merasa sedikit bosan dengan hari-hari saya. Dengan aktivitas dan mobilitas saya yang begini-begini saja. Bukan, bukan berarti hidup saya tidak bahagia. So far, my life’s so happy and always full of delightful things. Saya juga masih merasa 'kurang' dengan apa yang pernah saya dapatkan selama ini. Because every peoples are never feel satisfied. Termasuk juga saya.

Terkadang, saya juga menginginkan sesuatu yang 'lebih' pada kualitas diri saya. Saya akui saya masih belum ada apa-apanya. Saya masih terlampau bodoh untuk mengatakan bahwa diri saya 'mampu', 'bisa', 'dapat', 'sanggup' dan sejenisnya. Namun jujur, saya memiliki sifat iri hati yang teramat besar terhadap orang lain. Lebih tepatnya, iri hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas, edukasi, prestasi, kemampuan ataupun bakat yang dimiliki oleh seseorang. Bukan iri pada sesuatu yang bersifat semu semata yang lebih mencirikan hedonisme, materialistis bahkan konsumerisme.

Diantaranya:

Saya seringkali iri apabila ada beberapa teman saya yang Indeks Prestasi Kumulatif-nya lebih tinggi daripada saya.

Saya juga iri apabila berkenalan dengan orang-orang sebaya saya yang dapat dengan fasih menggunakan bahasa asing secara baik dan benar. Sedangkan Bahasa Inggris saya saja masih sangat pas-pasan.

Saya iri membaca tulisan-tulisan hasil buah pikir orang lain yang di setiap kata per katanya mengandung sejuta makna, berbobot dan indah dibaca. Sedangkan tulisan-tulisan saya masih jauh dari kata 'bermutu'. Perbendaharaan kata masih beku dan ide terkadang buntu.

Saya iri menyaksikan orang yang pandai berbicara di depan umum tanpa rasa nervous dan kaku sedikitpun. Sedangkan setiap kali saya mencoba mempraktekkan ilmu public speaking saya yang sempat saya dapatkan dari buku, artikel media massa maupun seminar, rasanya tidak pernah maksimal. Substansi tema kerapkali terlupakan karena termakan oleh over basa-basi, larinya konsentrasi dan rasa grogi.

Saya iri melihat orang-orang cerdas yang kerap berseliweran di depan mata saya. Dimana kecerdasannya bersatu padu dengan kharisma dan kerendahan hati yang terpancar di setiap tutur kata serta tingkah lakunya.

Saya iri pada teman yang telah banyak membaca lebih dari ratusan judul buku. Sehingga isi kepalanya pun seakan penuh dengan wawasan, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Sedangkan masih banyak sekali buku-buku best seller yang belum pernah saya konsumsi dan saya pahami sama sekali.

Saya iri kepada teman-teman di kampus lain yang organisasi kemahasiswaannya dapat maju secara pesat. Kualitas setiap pengurusnya patut diacungi jempol. Solidaritas dan kekompakkannya pun terpelihara dengan baik. Setiap proker terlaksana sesuai harapan. Event-event yang digelar selalu sukses dan mampu mendatangkan manfaat bagi khalayak luas.

Saya iri melihat orang-orang 'berhasil' yang sudah mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri tanpa perlu menadahkan telapak tangan lagi ke hadapan orang tua.

Saya iri pada kawan-kawan saya yang sudah pernah mengunjungi tempat-tempat unik nan menakjubkan impian saya. Sedangkan saya sendiri masih dalam taraf memimpikannya dan belum mempunyai kesempatan untuk menginjak tanahnya, apalagi menikmati pesonanya.

Saya iri kepada anak-anak yang orang tuanya mampu membayar isi ulang modem internet per bulannya untuk digunakan sesuka hati oleh anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut dapat dengan mudah mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. Disamping itu orang tuanya pun sanggup membiayai anak-anaknya untuk mengikuti kursus di sana-sini. Sehingga skill yang dimiliki si anak kian berkembang bahkan bertambah.

Saya juga iri melihat orang-orang di luar sana yang sudah lebih dulu melanglang buana, yang lebih one step ahead di segala bidang dan lebih beruntung karena mampu mengenyam pendidikan di tempat-tempat yang sangat prestisius serta bergengsi.

Mereka bisa, mengapa saya tak bisa? Tapi saya BELUM bisa…

Sekarang, saya bingung dengan apa yang harus saya lakukan? Saya memiliki banyak mimpi. Tetapi ke-irihati-an saya tersebut kerap menjadikan saya rendah diri (minder) dan membuat saya bertanya-tanya: "Apakah saya akan mampu — atau bahkan akan lebih hebat — dari mereka?" Tapi di sisi lain, hal-hal seperti itu justru seolah-olah telah 'memecut' saya. Laksana seekor kuda yang sudah kelelahan kemudian bokongnya dipecut dengan keras oleh Pak Kusir yang sedang berkuda, agar si kuda tersebut dapat kembali berlari dengan kencang.

Hmm.. Singkatnya, sekarang saya sedang menginginkan suatu PERUBAHAN. Yang jelas, saya tidak ingin stuck di sini terus! Hanya berkutat pada 'itu-itu' saja. Saya menginginkan suasana baru. Aktivitas baru. Orang-orang baru. Saya ingin memasuki sebuah dunia baru. Mungkin dengan memasuki suatu komunitas baru atau kegiatan baru yang bisa saya seriuskan. Dimana di dalamnya saya dapat mengembangkan potensi yang saya miliki, bersibuk-sibuk ria, mengisi waktu di dalam hidup saya yang singkat ini dengan hal-hal yang positif, menambah jaringan, berkenalan dan menjalin persahabatan dengan teman-teman baru (yang jauh lebih kreatif) serta mengais pengalaman baru. Apa yaa??


Regards,
Syafa :)

Sabtu, 04 September 2010

UNSPOKEN

Sulit. Sulit untuk menjelaskannya. Ada. Sesuatu itu memang ada. Mengganjal. Di sini. Di dalam benak. Sudah menggunung, malah.

Biarlah. Sebaiknya hanya saya yang tahu dan merasakan hal ini. Yang bersangkutan, cukup diam saja. Tak perlu banyak tanya. Karena saya tidak akan dan memang tidak mampu untuk mengutarakannya secara langsung. Saya tunggu sampai Anda ‘ngeh’ dan tersadar sendiri dengan apa yang semestinya Anda lakukan.

Well, pada dasarnya saya tidak pernah menuntut macam-macam. Saya juga tidak menginginkan ini dan itu. Seperti yang Anda tahu, saya bukan tipikal wanita ‘lebay’ yang menuntut pasangannya untuk harus menuruti apa kata saya, yang suka mengekspos kemesraan di depan umum, yang segalanya harus serba praktis dan romantis, yang menjadikan kekasihnya sendiri sebagai supir pribadi/tukang ojeg langganan untuk mengantar-jemput kemana saja saya pergi, yang mewajibkan pasangannya untuk selalu mentraktir saya setiap kali makan dan minum kopi bersama, yang lenje berlebihan atau yang cenderung posessif. Maaf, saya tidak seperti itu.

Namun terkadang, di saat-saat tertentu, saya pun menginginkan sesuatu yang ‘tak biasa’. Perlakuan istimewa yang mampu menyentuh hati saya. Apa saja. Sejauh kreativitas Anda mampu melakukannya. Tak mesti sesuatu yang mahal. Tak usah pula hal-hal yang mewah, meribetkan, melelahkan atau bahkan berlebihan. Sesuatu yang mungkin menurut semua orang ‘biasa’ tetapi akan ‘luar biasa’ menyenangkan bagi saya.

Bukankah 'inovasi' juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan demi mencegah kebosanan dan mengobati kejenuhan?

Regard,
Syafa >.<